Selasa, 18 April 2017


Not in This Lifetime: Konser Akbar Guns N Roses di Singapura

Not in This Lifetime: Konser Akbar Guns N Roses di Singapura
Konser Guns N' Roses di Singapura, Sabtu, (25/2). FOTO/Straitstimes

Reporter: Nuran Wibisono
27 Februari, 2017dibaca normal 7 menit
Guns N Roses menggelar konser akbarnya di Singapura dengan personel lengkap. Konser dihadiri 50.000 orang, yang merupakan rekor konser terbesar dalam sejarah di Singapura. Mengagumkan sekaligus mengharukan

!
tirto.id - I

April 1986. Band dengan reputasi berandalan jalanan, Guns N Roses, baru saja menandatangani kontrak dengan Geffen Records. Saat itu GNR memang sedang naik daun. Mereka menjadi penampil utama di berbagai bar besar di kawasan Los Angeles, California. Namun, setelah mendapat kontrak, bermain di bar tentu tak akan menjadi prioritas utama bagi manajemen maupun label.

Maka untuk merayakan kejadian besar ini --nyaris semua dari mereka berpikir akan berakhir sebagai residivis atau penjual narkoba atau germo atau gelandangan-- sekaligus membuat pesta perpisahan, GNR membuat 3 pertunjukan terakhir sebelum masuk ke dapur rekaman. Dua kali di Roxy, dan satu di Whisky a Go Go.

Nama klub terakhir itu amat penting. Sebab Whisky adalah saksi hidup dari sejarah rock n roll di kawasan Los Angeles. Banyak band besar lahir dan besar di tempat ini. Mulai The Doors hingga Motley Crue. Tapi di awal dekade 1980-an, tempat ini sempat beralih fungsi sebagai kantor bank selama beberapa tahun, hingga akhirnya kembali ke khittahnya sebagai klub malam. GNR diputuskan untuk membaptis ulang kelahiran Whisky. Untuk mengundang banyak orang, dibuatlah poster berukuran besar dengan kata-kata seronok berhuruf kapital.

KAPAN TERAKHIR KALI KAMU MENONTON BAND ROCK N ROLL SEJATI DI WHISKY A GO GO?

BISA JADI INI KESEMPATAN TERAKHIRMU!

Ditakut-takuti tak akan bisa menonton band rock n roll sejati yang segera akan melanglang dunia, plus ini pembukaan ulang Whisky yang legendaris itu, maka klub ini dengan segera penuh oleh penonton Los Angeles yang terkenal amat selektif dalam memilih band.

Lagipula siapa yang tahu ke mana GNR akan benar-benar berlabuh. Alih-alih menjadi terkenal, bisa saja mereka akan berakhir jadi narapidana, pengedar narkoba, atau mati konyol karena overdosis.

Iya, bisa jadi ini kesempatan terakhir, baik bagi penonton maupun GNR sendiri.

II

Saat tiga orang personel asli GNR memutuskan untuk reuni --vokalis Axl Rose, gitaris Slash, dan bassist Duff McKagan-- dunia terhenyak. Semua makmum rock n roll tahu kalau Axl dan Slash, dua matahari kembar di band ini, tak akur sejak puluhan tahun lalu. Penampilan terakhir mereka terjadi pada 1993. Dan sejak saat itu, Axl lebih banyak menyerang Slash. Suatu waktu, vokalis dari Indiana ini pernah menyebut mantan kompatriotnya ini sebagai kanker dan harus dijauhi.

Axl dan Slash punya karier bermusik yang kemudian menapak di jalan berbeda. Axl berusaha sekeras mungkin menjaga marwah GNR, menjaganya sebagai band yang pernah mendapat julukan band paling berbahaya di dunia. Sedangkan Slash bisa berjalan lebih bebas. Dia memang masih dikenal sebagai gitaris ikonik GNR, tapi juga lebih santai dan membuatnya bebas membuat proyek musikal apapun. Sejak beberapa tahun terakhir, selain mengomandani supergrup Velvet Revolver, Slash membuat album solo yang menggandeng banyak penyanyi. Salah satu yang kemudian menjadi partner bermusiknya dalam waktu lama adalah Myles Kennedy, penyanyi Alter Bridge yang dikenal punya jangkauan vokal yang panjang.

Tapi media selalu melontarkan pertanyaan sama terhadap band yang sudah pecah: kapan kalian akan reuni? Kalau pertanyaan itu dilempar ke band biasa, mungkin yang ditanya hanya akan senyum-senyum saja sembari menjawab penuh retorika. Tapi akan lain halnya kalau yang ditanya adalah Axl Rose. Jawabannya lantang, sedikit pedas, dan banyak sinisnya:

"Not in this lifetime. Tidak di kehidupan ini."

Karena itu, banyak orang tak percaya kalau akhirnya tiga orang personel asli ini benar-benar reuni. Kabar itu dianggap mitos yang sama tidak meyakinkannya dengan keberadaan unicorn. Hingga akhirnya dunia melihat kalau mereka bertiga, mengusung bendera GNR, bermain sebagai bintang utama di The Troubadour, klub malam yang berjasa membesarkan mereka. Dengan cepat, 500 lembar tiket langsung ludes. Lalu selang seminggu, dibuatlah konser di T-Mobile Arena selama dua hari. Sebanyak 28.849 tiket dijual, dan langsung habis. Pada 16 April 2016 dan 23 April 2016, GNR menjadi penampil utama di festival Coachella.

Setelahnya, tak perlu waktu lama untuk dibuat tur keliling dunia. Ini adalah tur ambisius, walau tak seambisius tur Use Your Illusion yang berjalan 2 tahun. Tapi mengingat ini adalah tur pertama sejak 1993, jangka waktu April 2016 hingga September 2017 sudah amat panjang. Di Asia, mereka akan main di Jepang, Singapura, Thailand, dan Uni Emirat Arab. Kali ini Indonesia dilewati.

Karena tak mampir ke Indonesia, banyak penggemar GNR yang kemudian rela menyebrang ke Singapura untuk menonton mereka. Mengutip kalimat promosi di brosur penampilan GNR pada April 1986, bisa jadi ini kesempatan terakhir menonton GNR dengan tiga orang personel asli.

Tapi kali ini sudah tak ada lagi ketakutan mereka akan jadi residivis atau narapidana. Ketakutannya berganti, siapa tahu mereka akan kembali tengkar lalu kembali bubar jalan. Atau mati. Tahun ini, rata-rata umur tiga personel ini sudah 53 tahun. Kematian jadi terasa lebih dekat seperti nadi.

Not in This Lifetime: Konser Akbar Guns N Roses di Singapura


III

"You know where the fuck you are?"

"Yeaaaaaaahhhhhhh!!!"

"You are in the jungle baby!"

"Yeaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh!!!"

"You're gonna dieeeeeeeeeeeee!!!"

"Yeaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh!!!"

Kalau ada bagian lirik yang begitu bisa mengundang histeria massa, mungkin salah satunya adalah "Welcome to the Jungle". Lagu pembuka di album debut Appetite for Destruction ini nyaris tak pernah gagal mengundang teriakan penonton. Di versi album, teriakan ini berada di bagian tengah lagu. Di konser, teriakan itu dipindah ke awal, sebelum intro ikonik dari Slash dimulai.

Di Singapura, teriakan itu tetap tak gagal mengundang teriakan massa meski kebanyakan sudah tahu apa saja lagu-lagu yang akan dimainkan GNR. Di era internet, daftar lagu yang dimainkan sudah tak lagi jadi misteri. Di situs seperti Setlist, penonton bisa tahu apa saja lagu yang dimaikan dalam tiap konser. Bahkan dibuat persentase.

Misalkan, di seluruh 47 konser GNR selama 2016, lagu "It's So Easy" selalu jadi pembuka. Dengan persentase 100 persen, kita tahu bahwa "It's So Easy" akan jadi pembuka di konser GNR Singapura. Benar saja. Saat Duff, Slash, dan Axl muncul 30 menit terlambat dari jadwal yang seharusnya pukul 8 malam, lagu dari Appetite for Destruction ini langsung digeber sebagai pembuka. Jelas, Duff mendapat sorotan awal. Sebab intro lagu ini khas: bass yang dibetot bertalu-talu. Musik pembukanya, lengkap dengan drum yang berderap, selalu cocok dijadikan lagu latar adegan pemuda berandalan yang dikejar-dikejar polisi dalam berbagai film aksi.

Malam itu, Changi Exhibition Center dipenuhi sekitar 50.000 penonton. Menurut LAMC Productions, promotor hiburan terbesar di Singapura yang berada di balik aneka ria pertunjukan besar di negeri Singa itu, konser GNR adalah yang terbesar sepanjang sejarah Singapura. Sebelumnya, rekor penonton terbanyak diraih saat Metallica manggung pada 2014. Saat itu, konser dihadiri oleh sekitar 40.000 orang.

Tapi dasar Singapura, agak susah mau berbuat sedikit ugal-ugalan di sini. Di tengah set, saat lagu "Live and Let Die" dimainkan, seorang penonton perempuan dibopong di atas bahu kawannya. Mereka bernyanyi bersama dan berjoget. Tiba-tiba saja seorang tenaga keamanan mendatangi mereka, dan setengah memaksa perempuan itu turun. Padahal pemandangan penonton dibopong itu adalah hal biasa dalam konser rock. Di Indonesia, pemandangan seperti itu bahkan bisa ditemui di hajatan dangdut di kampung-kampung.

Yang menarik, GNR banyak membawakan lagu yang nyaris jarang dimaikan. Lagu "Coma", misalkan, membuat saya kaget ketika dimainkan. Lagu dari album Use Your Illusion I ini adalah lagu terpanjang dalam seluruh diskografi GNR, merentang 10 menit 14 detik. Karena panjang dan cukup rumit dibawakan, lagu ini termasuk lagu yang paling langka ditonton di sepanjang konser GNR. Sepanjang 1991-1993 saja, hanya empat kali lagu ini dimainkan secara langsung. Dalam konser di T-Mobile Arena, 8 April 2016, "Coma" dimainkan untuk pertama kalinya sejak 23 tahun. Sejak saat itu, "Coma" kemudian rutin dimainkan di tur Not in This Lifetime.

Begitu pula "Double Talkin' Jive" yang nyaris tak pernah dibawakan selepas usainya tur Use Your Illusion. Lagu ini dibuat Izzy setelah polisi menemukan sesosok mayat di tempat sampah, pas di belakang studio tempat mereka merekam Use Your Illusion. Ini adalah salah satu lagu GNR paling eksperimentatif. Kocokan gitar hard rock dari Izzy, ditimpali dengan solo gitar Slash yang berlanggam flamengo dengan bahan bakar diesel beroktan tinggi. Nyaris susah menemukan komposisi seperti ini di kalangan band seangkatan GNR yang terlalu terobsesi dengan make up, musik standar rock n roll, dan lirik soal pesta, mabuk, dan bercinta.

IV

Ini pengakuan memalukan, tapi saya menangis lima kali di konser ini. Salah satunya adalah saat mereka membawakan lagu "Yesterdays", dari album Use Your Illusion II. Lirik lagu ini bercerita tentang masa muda yang terbuang sia-sia, dan sesosok orang tua yang mengenangnya dengan gundah.

'Cause yesterday's got nothin' for me

Old pictures that I'll always see

Some things could be better

If we'd all just let them be



Yesterday's got nothin' for me

Old pictures that I'll always see

I ain't got time to reminisce old novelties


Membaca liriknya, bisa saja kita beranggapan bahwa ini adalah nubuat bahwa GNR yang sudah pecah tak akan bisa kembali bermain bersama. Bagi seorang penggemar, tak ada yang lebih menyedihkan ketimbang itu. Karenanya, bisa melihat tiga orang personel asli bermain bersama lagi di kehidupan ini, ada rasa haru yang menyeruak. Tiba-tiba saja, saat Axl menyanyikan bait "some things could be better if we'd all just let them be" dengan nada yang hanya bisa lahir berkat kebijaksanaan berusia setengah abad, air mata tiba-tiba mengucur. Tak pedulo segala machoisme. Itu tak ada artinya di hadapan mimpi masa kecil yang terpenuhi.

Kemudian saya kembali menangis saat lagu "Estranged" dimainkan. Axl menuliskan lagu ini di salah satu masa paling rendah: cerai dengan Erin Everly, perempuan yang untuknya dibuat lagu manis, "Sweet Child o' Mine".

“Estranged”, lagu dari album Use Your Illusion II berdurasi 9 menit 24 detik ini adalah salah satu lagu paling populer dari GNR. Dimainkan dalam nyaris setiap panggung. Tapi ada energi berbeda yang terasa saat Slash sendiri yang memainkan solo gitarnya. Air mata sedikit susah dibendung saat Axl berujar, "Mister Dizzy Reed on keyboard".

Permainan keyboard Dizzy itu adalah jembatan antara kecemasan eksistensial nan gelap di awal-awal lagu, menuju bagian lain lagu yang lebih cerah dan penuh pengharapan. Axl berusaha memahami dirinya sendiri, juga memberi gambaran kepada manusia lain, bahwa saat manusia terperosok ke lubang kesedihan yang paling dalam, tak ada lagi gunanya segala pencapaian dan kebanggaan.


When I find out all the reasons

Maybe I'll find another way

Find another day

With all the changing seasons of my life

Maybe I'll get it right next time



And now that you've been broken down

Got your head out of the clouds

You're back down on the ground

And you don't talk so loud

And you don't walk so proud

Any more, and what for


Lalu solo gitar indah itu dimainkan. Saya mewek. Seperti mendengar sebuah kidung puja puji bagi yang maha suci. Agung. Luhur. Syahdu. Sialan benar gitaris kribo ini. Siapa yang menyangka kalau dari jemari yang sering mengobel ratusan meki di masa mudanya, bisa terlahir pula solo gitar kudus yang begitu menghangatkan. Tak heran kalau Axl yang dikenal egosentris pun menyematkan pujian di bawah lirik lagu ini: Slash, thanks for the killer guitar melodies.

V

Saat "Nightrain" dimainkan, semua penonton tahu konser akan segera berakhir. Lalu para personel GNR akan kembali ke balik panggung. Beristirahat sebentar, selagi menikmati teriakan penonton "We want more!" Lalu mereka akan kembali ke atas panggung disambut teriakan suka cita dari puluhan ribu pemujanya. Lalu empat lagu dimainkan, termasuk "Patience" dan ditutup oleh "Paradise City" yang rancak lagi membikin bersemangat itu. Oh ya, di bagian ini Slash sialan itu memainkan solo gitar dari balik kepalanya. Dasar gitaris sableng.

Usai itu, para personel GNR akan kembali ke balik panggung. Namun tak lama. Mereka akan kembali ke atas panggung, mengucapkan sayonara dan sampai jumpa lagi, dan tentu saja dibalas dengan riuh tepuk tangan yang bisa menyaingi suara mesin pesawat. Kupikir ada banyak penonton yang mengharapkan ada album baru dari mereka.

Lalu yang tersisa adalah kaki pegal. Pinggang sakit serasa habis dihantam Mike Tyson. Perut lapar serasa habis dikuras kosong. Tapi dada dipenuhi rasa bahagia yang membuncah. Axl rose memang tak muda lagi, tarian ularnya sudah tak seksi dan tak lagi bisa membikin perempuan manapun orgasme.  Suaranya pun beberapa kali kepleset nada. Tapi siapa yang peduli, apalagi dia masih bisa berteriak "You know where the fuck you are" dan masih mengundang histeria massa yang memecah udara. Slash masih bermain dengan energi yang sama, walau jemari-jago-mengobel itu sudah lama membengkak. Duff masih tetap dengan uber coolness, kekerenan yang tiada banding. Tapi kali ini dibarengi oleh kerut di muka dan suara yang sedikit berubah.

Mereka menua, tapi begitu juga kita. Begitu pula saya, yang pertama kali mendengar GNR saat SMP dan langsung tahu kalau band ini akan saya cintai sampai saya dikubur kelak. Menonton GNR dengan tiga personel lengkap mungkin adalah pengalaman yang nyaris langka. Sebab, mengutip flyer saat mereka membaptis ulang Whisky a Go Go: kapan lagi.

Siapa tahu mereka akan bertengkar dan bubar lagi. Siapa tahu salah satu dari mereka, atau malah kita, akan dipanggil ke alam barzah. Siapa yang tahu masa depan? Dan karena itu: kapan lagi bisa menonton GNR dengan tiga personel asli? 

Paul McCartney Berkontribusi dalam Album Baru Ringo Starr

Paul McCartney Berkontribusi dalam Album Baru Ringo Starr
Ringo Starr (kiri) dan Paul McCartney (kanan). (twitter.com/ringostarrmusic)
Reporter: Mutaya Saroh
21 Februari, 2017dibaca normal 0:30 menit
Manajemen Ringo mengkonfirmasi bahwa McCartney berkontribusi dalam album mendatang Ringo.
tirto.id - Paul McCartney dan Ringo Starr bertemu di studio musik, pada Minggu (19/2/2017). Manajemen Ringo mengkonfirmasi bahwa McCartney ada di sana untuk berkontribusi dalam album mendatang Ringo.

"Terima kasih telah datang dan bermain bass yang sangat bagus," tulis drummer Beatles itu di akun Twitter-nya dengan berlatar belakang di studio rumahnya, seperti dilansir dari Antara, Selasa (21/2/2017).

Ringo juga mengunggah foto dirinya bersama Paul dan penyanyi-penulis lagu- komposer asal Amerika Joe Walsh dengan menuliskan, "Dan lihat Joe W keluar untuk bermain. Hari yang luar biasa bagi saya. Damai dan cinta.

Bruce Sugar, yang memproduseri beberapa album terbaru Ringo, juga memposting foto dirinya bersama dua anggota Beatles tersebut. 

"Hari ajaib di studio dengan dua orang ini," tulis dia.

Pada Juni lalu Ringo mengatakan kepada Billboard tentang perkembangan album "Postcard From Paradise." 

Album tersebut rencananya dirilis awal tahun ini, namun belum ada informasi lebih lanjut terkait tanggal peluncuran.

Paul dan Ringo terakhir kali tercatat bersama-sama dalam album "Y Not" yang dirilis pada 2010. Paul bermain bass untuk lagu "Peace Dream" dan bernyanyi dalaam lagu "Walk With You." 

Penjualan Album Thriller Michael Jackson Tembus 33 Juta Kopi

Penjualan Album Thriller Michael Jackson Tembus 33 Juta Kopi
Michael Jackson saat manggung pada tahun 1983. Foto/Kevin Mazur/mtv.com
Reporter: Mutaya Saroh
17 Februari, 2017dibaca normal 1 menit
Album "Thriller" Michael Jackson, kembali mencatatkan prestasi penjualan mencapai 33 juta kopi di Amerika Serikat. Album tersebut hingga kini dikenang sebagai album dengan penjualan terbesar sepanjang sejarah.
tirto.id - Album "Thriller" Michael Jackson, kembali mencatatkan prestasi penjualan mencapai 33 juta kopi di Amerika Serikat. Album tersebut hingga kini dikenang sebagai album dengan penjualan terbesar sepanjang sejarah. 

"Thriller", yang mencakup lagu-lagu hit sepanjang masa seperti "Beat It" dan "Billie Jean", kemungkinan tidak akan tergeser dari posisi album terlaris sepanjang sejarah dalam waktu dekat.

Asosiasi Industri Rekaman Amerika merilis data penjualan album yang pertama keluar tahun 1982 itu setelah melakukan memasukkan faktor streaming. 

“Penjualan album itu mencapai 105 juta kopi di seluruh dunia,” kata Estate Jackson, seperti dilansir dari Antara, Jumat (17/2/2017)

Album itu keluar pada masa keemasan musik komersial, dengan hasil penjualan album besar dan MTV menjangkau penikmat musik baru.

Album dengan hasil penjualan terbesar kedua sepanjang sejarah Amerika Serikat adalah "The Greatest Hits (1971-1975)" dari Eagles, yang mencatatkan penjualan 29 juta kopi dan terakhir memenangi sertifikasi baru pada 2006.

Secara terpisah, asosiasi industri rekaman pada Kamis, (16/2/2017) menyatakan bahwa album Jackson yang berjudul "Bad" (1987) mencatatkan penjualan 10 juta kopi di Amerika Serikat.

"Thriller", dirilis pada 1982, ditulis oleh Rod Temperton yang telah meninggal pada usia 66 tahun. Ia juga merupakan penulis judul lagu ternama lainnya seperti "Give Me The Night" dan "Sweet Freedom".

Perton juga menerima nominasi Oscar dengan Lionel Richie dan Quincy Jones untuk sebuah lagu "Blues Nona Celie". 

Pria kelahiran Cleethorpes, Lincolnshire, Ini menjauh dari pusat perhatian, meskipun sukses besar dengan kepemilikan properti di seluruh dunia, termasuk di Mulholland Drive, komplek perumahan mewah para artis. 

BIGBANG Raih Lima Penghargaan dari Ajang Golden Disc Jepang

BIGBANG Raih Lima Penghargaan dari Ajang Golden Disc Jepang
Screen capture video musik
Reporter: Mutaya Saroh
28 Februari, 2017dibaca normal 0:30 menit
BIGBANG, Boyband asal Korea Selatan meraih penghargaan terbanyak dalam ajang Golden Disc Jepang ke-31 untuk kategori Asia.
tirto.id - BIGBANG, Boyband asal Korea Selatan meraih penghargaan terbanyak dalam ajang Golden Disc Jepang ke-31 untuk kategori Asia. BIGBANG menyabet lima penghargaan, salah satunya untuk Best Asian Artist, diikuti boyband asal negeri gingseng lainnya, iKON dengan dua penghargaan dan BTS serta 2PM, masing-masing satu. 

Dilansir dari Antara, Selasa, (28/2/2017) BIGBANG juga memenangkan kategori "Best Album of the Year (Asia)" dan "Best 3 Albums (Asia)" untuk album mereka," MADE" dan kategori "Song of the Year by Download (Asia)" untuk lagu "Bang Bang Bang".

Band beranggotakan G.Dragon, T.O.P, Taeyang, Daesung, dan Seungri itu juga memenangkan kategori "Best Music Video" untuk DVD tour dunia bertajuk "MADE" mereka. 

Sementara itu, kategori Best 3 Albums (Asia) sukses jatuh ke tangan Bangtan Sonyeondan (BTS) dan 2PM untuk album jepang mereka "Youth" serta album "Galaxy of 2PM". iKON membawa pulang dua tropi untuk kategori "New Artist of the Year" dan "Best 3 New Artists (Asia)." 

Digawangi Asosiasi Industri Rekaman Jepang, the Japan Golden Disc Awards dipersembahkan untuk para musisi yang telah berkontribusi pada industri musik Jepang. Bedanya dari ajang penghargaan lain, para pemenang diumumkan melalui website, tanpa ada upacara pemberian penghargaan layaknya ajang serupa semisal Grammy. 

Pink Floyd Rilis Lagu yang Direkam Setengah Abad Lalu

Pink Floyd Rilis Lagu yang Direkam Setengah Abad Lalu
George Roger Waters, vokalis Pink Floyd. [Foto/Shutterstock]
Reporter: Yuliana Ratnasari
21 Maret, 2017dibaca normal 0:30 menit
Lagu berjudul "Interstellar Overdrive" versi instrumental baru akan dirilis pada 15 April nanti setelah direkam sejak 50 tahun lalu.
tirto.id - Band rock legendaris asal Inggris Pink Floyd bulan depan akan merilis sebuah lagu yang tidak pernah dirilis sejak direkam tahun 1966 lalu, demikian yang diungkapkan perusahaan rekaman Legacy Recordings pada Senin (20/3/2017) waktu setempat.

Lagu berjudul "Interstellar Overdrive" versi instrumental yang berdurasi 14 menit dan 57 detik itu akan keluar 15 April dalam bentuk piringan hitam satu sisi setebal 12 inci.

Single yang ditulis dan dibawakan oleh Syd Barrett, Roger Waters, Richard Wright dan Nick Mason ini, direkam pada 31 November 1966, sebelum mereka dikontrak oleh label musik EMI.

Sementara itu, versi lebih pendek lagu tersebut yang berdurasi hampir 10 menit dimasukkan ke dalam album perdana mereka, "The Piper at the Gates of Dawn" yang keluar tahun 1967.

Dikutip dari Antara, rilisan baru itu nantinya diluncurkan bersama sebuah poster lipat dan kartu pos ukuran A6 yang diambil dari sebuah konser di London tahun 1967.

Dalam set boks raksasa mereka "The Early Years - 1965-1972" yang keluar November, Pink Floyd sudah memasukkan lebih dari 20 lagu yang tidak dirilis sebelumnya.

Karir dan sumbangan band bagi musik rock juga akan dirayakan dalam "The Pink Floyd Exhibition: Their Mortal Remains" yang menurut jadwal bermula Mei di London's Victoria & Albert's Museum. 

Bob Dylan Terima Hadiah Nobel di Acara Kecil dan Sederhana

Bob Dylan Terima Hadiah Nobel di Acara Kecil dan Sederhana
Bob Dylan [Foto/wikipedia.org]
Sumber: antara
02 April, 2017dibaca normal 1 menit
Televisi Swedia, SVT melaporkan bahwa anggota Academy membenarkan bahwa penghargaan kesusastraan itu telah diberikan ke Dylan.
tirto.id - Penyanyi dan penulis lagu Bob Dylan menerima Hadiah Nobel Kesusastraan di Stockholm, Sabtu (01/4/2017). Swedish Academy, yang memberikan Nobel menyatakan bahwa pelantun lagu “Mr Tambourine Man” akan menerima penghargaan tersebut dalam acara "kecil dan akrab" sesuai permintaan Dylan. Dylan juga dikabarkan akan mengadakan dua konser di kota itu.

Televisi Swedia, SVT melaporkan bahwa anggota Academy membenarkan bahwa penghargaan kesusastraan itu telah diberikan ke Dylan.

"Dalam acara yang sangat rahasia," kata saluran tv itu melalui lamannya.

Sebelumnya, keputusan Academy memberikan hadiah pada musisi legendaris ini sempat menimbulkan kontroversi, ditambah sikap Dylan yang diam selama berminggu-minggu dan menolak menghadiri jamuan tahunan Nobel pada Desember lalu.

Dylan juga tidak hadir saat upacara penyerahan hadiah pada 10 Desember tahun lalu. Sebagai penggantinya, ia mengirimkan sahabatnya sesama artis, Patti Smith.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Swedish Academy, Sara Danius, awal pekan ini menyatakan Dylan tidak akan memberikan kuliah seperti yang dilakukan pemenang sebelumnya sesuai tradisi Nobel, namun akan mengirimkan versi rekaman.

Dylan harus memberikan kuliah dalam enam bulan setelah 10 Desember untuk mendapatkan hadian uang sebesar 8 juta crown, setara 900 ribu dolar AS (Rp11,9 miliar).

"(Swedish) Academy memiliki keyakinan bahwa versi rekaman akan dikirimkan kemudian," kata Sara.

Pemenang Hadiah Nobel terakhir yang memberikan ceramah melalui rekaman adalah Alice Munro pada 2013.

Untuk diketahui, Swedish Academy adalah lembaga yang memberikan penghargaan Hadiah Nobel bidang sastra. Sertifikat Hadiah Nobel dan medali Hadiah Nobel akan diserahterimakan dalam pertemuan. 

Rumitnya Menentukan Plagiasi di Dunia Musik

Rumitnya Menentukan Plagiasi di Dunia Musik
Beberapa Lagu Led Zeppelin dianggap plagiat salah satunya lagu
Reporter: Nuran Wibisono
11 April, 2017dibaca normal 4 menit
Lagu "Stairway to Heaven" dianggap menjiplak lagu "Taurus" milik band Spirit. Benarkah? Ternyata menentukan plagiasi di dunia musik adalah perkara rumit dan bisa berlangsung lama.
tirto.id - Lagu "Ayo Kobarkan Semangat Jakarta Anies-Sandi" yang merupakan lagu kampanye pasangan Calon Gubernur DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno mendadak hilir mudik di berbagai percakapan media sosial. Sayang, bukan karena hal baik macam musik futuristik, atau lirik menggugah, melainkan tudingan plagiasi.

Lagu itu dianggap mirip dengan "Hashem Meleh" milik penyanyi Israel Gad Elbaz. Sejatinya lagu "Ayo Kobarkan Semangat" itu diambil dari lagu "Kobarkan Semangat Indonesia" yang selalu dipakai untuk kampanye Partai Keadilan Sejahtera di ajang Pemilihan Legislatif 2014. 

Di situs Jakartamajubersama, dijelaskan bahwa aransemen lagu itu memang bukan dibuat oleh PKS, melainkan dibeli dari pencipta lagu "C'es la Vie" yang dipopulerkan oleh Cheb Khaled. Lagu itu memang populer. Di Youtube, sejak diunggah pada 12 September 2012, video lagu ini sudah ditonton sekitar 76 juta kali.

"Lagu 'C’est la vie juga diadopsi musisi Israel Gad Elbaz menjadi lagu 'Hashem Melech' yang dirilis pada 27 Januari 2013. Lalu pada tahun 2016, diluncurkan lagi dengan judul 'Hashem Melech 2.0' bersama rapper Nissim. Jadi kesimpulanya 'Lagu Kobarkan Semangat Indonesia' bukan mencontek lagu musisi Israel," ujar keterangan di situs Jakartamajubersama.

Perkara ini kemudian jadi ramai karena Gad Elbaz memberikan keterangan di akun Instagramnya. Penyanyi yang pernah melakukan tur Hashem Melech pada 2009 ini mengatakan bahwa, "Di Indonesia, lagu terbesar di komunitas Yahudi yang aku nyanyikan ini dipakai untuk tujuan politik. Politisinya anti Israel dan mereka adalah ekstrimis muslim. Mereka bilang aku yang meniru mereka. Padahal lagu ini dirilis sebelum artis seperti Mark Anthony merilisnya. Aku mengkover lagu milik Cheb Khaled."

Pesan itu jelas, bahwa lagu "Hashem Melech" adalah lagu daur ulang dari karya Khaled. Dan seandainya PKS memang membeli aransemen lagu itu dari penciptanya, maka itu legal, amat jamak dilakukan di dunia musik, dan bukan plagiasi.

Plagiasi Musik Sudah Berusia Ratusan Tahun

Pembicaraan tentang lagu kampanye Anies-Sandi ini menghasilkan lagi diskusi tentang plagiasi musik. Tidak seperti industri musik modern yang belum mencapai 1 abad, sejarah plagiasi musik berumur lebih tua.

Dalam data yang dimiliki oleh departemen Music Copyright Infringement Resource (MCIR) bentukan Columbia Law School dan USC Gould School of Law, catatan tertua plagiasi musik terjadi pada 1844. Saat itu pemilik lagu "The Cot Beneath the Hill" yang liriknya ditulis oleh James F. Otis dan musik dibuat oleh William Wetmore, menuntut majalah The Ladies Companion. Rupanya Ladies Companion menaruh lirik lagu itu di salah satu halamannya. Yang dituntut merasa tak tahu kalau lirik itu adalah lagu milik Otis, dan mereka mengopinya dari majalah lain. Tapi juri memutuskan berbeda. The Ladies Companion diharuskan membayar 625 dolar, atau sekitar 14.000 dolar di era sekarang.

Setelah kasus itu, MCIR mencatat ada lebih dari 100 kasus terkait plagiasi. Nama-nama yang terlibat pun merupakan nama besar. Mulai dari Jani Lane, Jay Z, Michael Jackson, ZZ Top, Bob Dylan, Run DMC, Mariah Carey, hingga John Fogerty.

Di luar kasus yang dicatat oleh MCIR, ada banyak kasus lain yang menarik perhatian besar. Salah satu yang paling terkenal adalah yang menimpa Led Zeppelin. Pembuka "Stairway to Heaven" yang sering didapuk sebagai lagu rock terbesar sepanjang masa, dianggap mencontek lagu "Taurus" milik grup Spirit yang dirilis pada 1968.

Led Zeppelin memang lumayan banyak tersandung dugaan plagiasi. Terhitung lagu "Bring It On Home", "The Lemon Song", "Whole Lotta Love", dan "Boogie with Stu" pernah dibawa ke meja hijau karena dianggap plagiat. Tapi memang yang paling menarik perhatian adalah kasus "Stairway to Heaven".

Kasus ini dimulai pada 2014. Saat itu Michael Skidmore, ahli waris mantan gitaris Spirit, Randy California, memasukkan tuntutan plagiasi. Personel Led Zeppelin menyangkal tuduhan ini. Mereka bilang tak pernah mendengar "Taurus" sebelum menulis "Stairway to Heaven". Setelah 2 tahun berjalan, pengadilan memutuskan Led Zeppelin menang, mereka tak meniru lagu milik Spirit.

Rumitnya Menentukan Plagiasi di Dunia Musik

Tuntutan kasus plagiasi memang butuh waktu panjang. Melelahkan dan menelan banyak biaya. Dalam makalah An Improved Framework for Music Plagiarism Litigation yang dimuat dalam California Law Review, Aaron Keyt mengatakan bahwa biaya pengacara untuk kasus plagiasi bisa mencapai 100 ribu dolar, bahkan lebih. Hal ini dikarenakan kasus plagiasi karya memang rumit, dan bahkan kerap abstrak.

"Dari semua jenis hukum yang aku praktikkan bertahun-tahun, hukum hak cipta memang yang paling metafisik," ujar Paul Fakler, pengacara spesialis hukum musik. "Perkara itu bisa berkembang jadi amat sinting dan ganjil," ujarnya pada Buzzfeed.

Dalam berbagai diskusi soal plagiasi musik, biasanya musik diartikan sebagai sesuatu yang memiliki tiga elemen: melodi, harmoni, dan ritme. Namun, juri di pengadilan memiliki pendapat yang berbeda. 

"Keaslian, jika memang masih ada, pasti bisa ditemukan di salah satu dari tiga elemen itu. Ritme, secara sederhana, adalah tempo di komposisi lagu. Ia adalah latar belakang melodi. Jumlah tempo amat terbatas. Keaslian dari ritme itu amat jarang, kalau bukan malah mustahil," tulis Keyt, mengutip omongan juri dalam kasus Northern Music Corp. melawan King Record Distributing Co.

Lalu bagaimana kita bisa menentukan, misal, lagu B adalah tiruan dari lagu A? Menurut Keyt, salah satu caranya adalah dengan menentukan identitas dari melodi, harmoni, dan ritme; kemudian mengukur kesamaannya. Sayangnya, itu bukan pekerjaan mudah. Belum lagi ada faktor-faktor penting lain dalam musik selain tiga hal tersebut.

"Kemungkinan ritmik itu berkembang amat luas pada abad belakangan ini," tulis Keyt, mengutip artikel berjudul New Musical Resources.

Karena rumitnya perkara plagiasi ini, banyak pihak yang memutuskan tak pergi ke pengadilan. Ini terjadi pada kasus Vanilla Ice. Pola bass di lagu Ice Ice Baby" dianggap menjiplak lagu "Under Pressure" yang ditulis oleh Queen dan David Bowie. Meski awalnya Vanilla Ice tak mengakui jiplakan itu, akhirnya dia mengatakan kalau lagu itu memang terinspirasi oleh "Under Pressure". Buntutnya, dia harus membayar royalti sebesar 4 juta dolar pada Queen dan Bowie, ditambah dengan memasukkan nama mereka dalam daftar pencipta lagu.

Hal yang sama juga terjadi pada Tom Petty dan Sam Smith. Lagu "Stay With Me" milik Smith dianggap sama dengan lagu "I Won't Back Down" milik Petty. Masalah itu kemudian diselesaikan di luar pengadilan.

Paul Fakler, pengacara spesialis hukum musik, dalam wawancara bersama Buzzfeed, mengatakan bahwa Petty dan Smith memang memutuskan tak pergi ke pengadilan. Alasan pertama adalah kasus seperti ini berbiaya amat mahal. Kedua, karena juri di kasus ini bisa amat tak terduga. Ketiga: ada stigma yang pasti melekat, baik pada penuntut maupun terdakwa. Bagi terdakwa, mereka akan dicap sebagai peniru dan tak orisinal. Sedangkan bagi penuntut, mereka akan mendapat cap sebagai orang serakah.

Tapi kerumitan ini tak menghalangi orang untuk berpekara di kasus plagiasi musik. Ada penuntut yang berhasil. Misalkan saat DJ Lynn Tollliver menuntut The Black Eyed Peas karena dianggap mengambil tanpa izin sebagian lagu "I Need a Freak" miliknya untuk lagu "My Humps". Pengadilan memenangkan Tolliver, memerintahkan Black Eyed Peas membayar 1,2 juta dolar.

Kasus lain yang berhasil adalah saat ahli waris Marvin Gaye menuntut dua musisi, Robin Thicke dan Pharrel Williams. Lagu "Blurred Lines" dan "Love After War" dianggap menjiplak "Got to Give It Up" dan "After The Dance". Juri memenangkan ahli waris Gaye. Thicke dan Williams diharuskan membayar 7,4 juta dolar

Tapi ada pula tuntutan yang kandas karena berbagai sebab. Selain kasus "Stairway to Heaven", ada pula kasus pada 1993 saat band Killing Joke menuntut Nirvana. Lagu "Come As You Are" dianggap menjiplak lagu "Eighties" milik Killing Joke. Tuntutan ini dibatalkan karena tewasnya Kurt Cobain. Ada juga kasus saat penyanyi Jesse Braham menuntut Taylor Swift sebesar 42 juta dolar. Tuntutan ini dibatalkan karena penuntut dianggap gagal menyediakan bukti yang cukup. Ada pula beberapa kasus yang sempat naik ke pengadilan, tapi berakhir dengan penyelesaian di luar pengadilan.

Perkara plagiasi musik ini memang rumit. Jadi kalau kamu mendengar satu lagu yang sama dengan lagu lain, percayalah: kamu tak sendirian. Apa boleh buat, tangga nada cuma 7 dan ada jutaan lagu yang sudah lahir. Keaslian, orisinalitas di dunia musik, adalah dongeng masa lalu. Perkara ini disadari betul oleh Paul Fakler.

"Tak ada hal yang benar-benar asli. Kita semua berdiri di atas bahu para pendahulu."